Selasa, 03 Februari 2009

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang




[2.80]. Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?".



[2.81]. (Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.




[2.82]. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.



[2.83]. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.



[2.84]. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.



[2.85]. Kemudian kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.



[2.86]. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.



[2.87]. Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada `Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?



[2.88]. Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.



[2.89]. Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.



[2.90]. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.

AL-BAQARAH 80- 90




yat-ayat ini mengembangkan suatu kesimpulan bahwa Allah tidak akan menganugerahkan keistimewaan khusus pada suatu kaum atau individu untuk kehidupan di akhirat. Sifat “rahiem” dari pasangan “rahman –rahiem” ( Al-Fatihah: 3) mempunyai makna bahwa Allah mencurahkan kasih sayang-Nya dengan merata kepada semua orang, siapapun dia dan dari kaum manapun asal menyerahkan diri kepada Allah, beriman dan beramal saleh. Tak ada suatu dalilpun yang menjelaskan bahwa Allah mengistimewakan suatu kaum atau pribadi. Bahwa Al-Quran menyebutkan beberapa nama Nabi yang mendapatkan kasih sayang Allah di akhirat itu bukan karena keistimewaan yang dianugerahkan Allah, tetapi karena keimanan dan amal perbuatannya yang baik. Mengenai sifat “rahman” yang dikombinasikan dengan keistimewaan dan kelebihan Bani Israel, maka mereka yang berjuang bagi kehidupan dunia, Allah dengan sifat “rahman”-Nya akan mengganjarnya dengan keberhasilan dunia sesuai dengan prestasinya (meritology). Tentu saja dengan kelebihan dan keistimewaan yang diberikan bagi Bani Israel, maka peluang untuk mendapatkan keberhasilan dan kesuksesan dunia itu makin besar. Tapi jangan lupa bahwa rezki atau ilmu yang mereka kasab, sebenarnya ujian Allah bagi makhluk-Nya, dan hanya merupakan sasaran antara sedangkan sasaran pamungkas adalah keberhasilan akhirat. [2:80 s/d 2:82]



Pada ayat-ayat berikutnya [2:83 – 2:86] digambarkan disini bagaimana dosa Bani Israel yang melanggar janji yang telah diikat Allah kepada mereka. Masalahnya adalah bagaimana mungkin Allah yang Maha Rabb dan Maha Khalik, berdiri sejajar dengan makhluk-Nya, Bani Israel. Oleh sebab itu maka maksud dari “Allah mengikat janji dengan Bani Israel” adalah “Allah memerintahkan Bani Israel untuk melakukan sesuatu. Hampir semua yang Allah perintahkan telah dilanggar Bani Israel. Mengapa ? Karena mereka lebih tertarik pada sasaran jangka pendek (kehidupan dunia) dari pada sasaran jangka panjang (kehidupan akhirat). Inilah yang dimaksud dengan “membeli kehidupan dunia” dengan kehidupan akhirat. Artinya untuk mendapatkan kehidupan dunia, mereka sanggup mengorbankan kehidupan akhirat yang jauh lebih baik dan kekal.

Semua nabi dan utusan Allah didustakan, sebagian dibunuhnya [2:87], karena mereka merasa sebagai gudang ilmu hingga boleh tak memperdulikan utusan Allah (2:88), juga terhadap kitab yang dibawa mereka, bahkan menolak kebenaran Al-Qur`an [2:89], dengan demikian mereka bahkan menjual jiwanya sendiri dengan mengkafirkan kitab yang dibawa utusan Allah (2:90).

Wallahu a’lam bishshawab. ( SFR)






Allah menganugrahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi Al Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (QS Al-Baqarah 2:269)

Tidak ada komentar: