Akan dengan mudah kita mendapati bahwa ajaran Islam itu banyak, maksudnya
menyangkut banyak hal. Di sana kita temukan ajaran keadilan, kebaikan,
kebijakan, kearifan, amanat, jujur, kedamaian, peperangan; ada ajaran untuk
situasi
normal dan juga untuk situasi abnormal, darurat.... dst., tak ketinggalan
pula Islam juga memperhatikan alam semesta dan penghuninya.
Dari banyaknya ajaran yang ada ini, ada beberapa ajaran yang tak mungkin
diamalkan dalam satu waktu secara serentak. Kita tak mungkin berdamai
sekaligus berperang terhadap satu obyek dalam satu waktu bersamaan. Begitu
pula situasi, tak mungkin normal dan darurat dalam satu waktu sekaligus,
pasti salah satunya.
Pun bisa kita temukan dalam aturan Islam, kapan kita boleh berperang dan
kapan kita tak dibenarkan perang. Ajaran-ajaran yang ada mengatur sesuai
dengan keadaan yang melingkupi dan menyertai diri kita. Bagaimana kita
berlaku dalam situasi begini dan bagaimana jika dalam situasi sebaliknya.
Ada opsi yang bisa kita pilih sesuai dengan situasi yang kita hadapi. Suatu
opsi tak selalu dapat kita pilih untuk setiap waktu dan keadaan, tanpa
memperhatikan perubahan dan situasi yang terjadi. Untuk itu diperlukan
ijtihad untuk memimilih opsi mana yang akan kita ambil. Akan konyol ketika
dalam keadaan perang yang kita pakai opsi kelembutan dan kasih sayang.
Begitu pula akan terkucil dan dibenci jika opsi perang yang diterapkan dalam
situasi normal, damai, dan persahabatan.
Menurut saya, termasuk ikut menyebar kerusakan di atas bumi jika ada doktrin
yang mengajarkan generasinya dengan rasa benci dan curiga terhadap suatu
kelompok (kelompok mana pun), sementara situasi yang dihadapi adalah situasi
normal, dan tiada ancaman.
Bisa jadi kita akan terjebak pada "su'udzdzan" massal jika kita mencekoki
generasi kita dengan kecurigaan dan kebencian kepada orang lain. Bukan pula
dalil pembenar bagi kita, menjadikan perilaku kelompok lain sebagai landasan
perilaku kita. Kalo argumentasi kita dalam doktrin benci dan curiga
didasarkan pada "karena mereka mendoktrin dengan hal yang sama terhadap
generasinya"; maka yang perlu ditanyakan pada diri kita sendiri adalah, "apa
bedanya kita dengan mereka?" Kita, yang mengaku ummatan wasathan, kita yang
mengaku, khaira ummatin ukhrijat linnas, jika ternyata perilaku kita tak
beda dengan yang bukan khaira ummatin ukhrijat.
Kita yang diberi mandat untuk "an tahkuma bayna al-nas bil `adl", meskipun
setelah kita tahu bahwa mereka adalah "al-mukhtalifun, para pengingkar dan
penyelisih, bahkan perubah dan penjual Kitab Tuhan dengan harga recehan".
Mandat ini--untuk berpihak pada keadilan--tidak dicabut dari ajaran yang
kita ikuti meskipun terhadap lawan dan musuh. Kita masih dikenai taklif
untuk berlaku adil dan berlaku ma'ruf.
Dengan hal ini, ana tak bermaksud menggiring kepada sikap terlalu baik
sehingga terhadap setan pun kita berhusnudzdzan. Bukan! Bukan pula menolak
untuk memberikan "azimat" kepada generasi berikutnya sebagai bekal
pengetahuan agar mereka berlaku waspada dan hati-hati. Ada hal yang lebih
penting untuk didoktrinkan kepada generasi tangguh kita dari pada kebencian
dan kecurigaan. Doktrin itu adalah kebenaran, keadilan dan kebaikan.
Tanamkan doktrin ini sedalam-dalamnya dan sesubur-suburnya. Keberanian yang
didoktrinkan hendaklah dalam bingkai kebenaran dan kebaikan itu sendiri,
bukan karena amarah, dendam, rasa benci, dan kecurigaan. Sekali lagi
kebenaran, keadilan, dan kebaikan, bukan sebaliknya.
Pandangan polos (tanpa tanda kutip) adalah pandangan apa adanya, kejujuran,
tak berprasangka, dan tak disertai kecurigaan. Pandangan polos adalah
pandangan kedamaian, pandangan kebaikan dan kelembutan. Selama kita bukan
intelijen, rasanya, tak perlu kita mengasah pandangan tajam penuh selidik.
Pun kita tak perlu menunduk atau memejamkan mata menyaksikan fenomena yang
ada, sehingga berakibat kita buta pada lingkukan dan peristiwa yang terjadi
di sekitar. Pandanglah dengan polos. Katakan yang benar adalah benar, yang
baik adalah baik... dst. Ini adalah standar yang paling mudah dan gampang
dipaham oleh kebanyakan orang. Kebanyakan orang bukan intelijen yang
harus melihat dengan penuh selidik. Ajaran diturunkan bukan untuk para
intel, meskipun mungkin intel dibicarakan di dalamnya, tapi "linnas `ammah".
Ikut nimbrung dalam diskusi soal kelebihan Yahudi ini, ada beberapa catatan
yang sebaiknya tak kita lupakan, atau dengan sengaja kita tinggalkan.
Bangsa Yahudi, Bani Israil, sebagaimana diceritakan dalam al-Qur'an, adalah
bangsa yang mendapatkan rahmat dan mendapat kelebihan dari Tuhan. Adalah
sikap yang benar dan sesuai dengan yang diceritakan Allah kepada kita jika
mengakui hal ini.
Pun tidak salah jika kita mengatakan kelebihan dan rahmat tersebut bisa
berpindah dan silih berganti, baik melalui perputaran waktu maupun oleh
usaha dan kerja keras. (wa 'l-Lahu yakhtashshu bi rahmatihi man yasya', wa
'l-Lahu dzul fadli 'l-`adhim; innallah la yughayyiruma bi qawmin hatta
yughayyiru ma bi anfusihim; Inna 'l-fadla bi yadi 'l-Lahi, yu'tihi man
yasya'; tilkal ayyamu nudawiluha bayna al-nas.... dll, banyak sekali)
Pun tak ada yang bisa menghalangi seandainya Tuhan membuat kelebihan dan
kekurangan itu untuk seluruh umat dalam satu waktu. Sebagaimana yang kita
saksikan saat ini. Indonesia unggul dalam kekayaan alam, juga kekayaan
jumlah penduduk. Indonesia juga unggul dalam jumlah hutang. (kekayaannya,
baik alam maupun manusia, bisa dijual satu-satu untuk bayar hutang ini, jika
mau... ;-)) Hutang kita akan berubah menjadi saldo atau malapetaka yang
mencekik tergantung usaha kita. Yang jelas kita telah diberi kelebihan oleh
Tuhan). Jepang dan Korea unggul menjadi tuan rumah piala dunia :-)), begitu
pula bangsa-bangsa yang lain... silakan daftar sendiri-sendiri. (Yu'thi
kulla dzi fadl fadlah [11: 3]; Dzalika min fadli 'l-Lahi `alayna wa `ala
'l-naas [12: 38]; Inna 'l-Laha ladzu fadl `ala 'l-naasi wa laakinna aktsara
'l-naasi laa yasykurun [2:243]; wa law laa daf`u 'l-Lahi al-nasa ba`dlahum
biba`dl lafasadatil ardl, wa laakinna 'l-Laha dzu fadl `ala 'l-`aalamin
[2:251].... dan lainnya seabrek!)
Berkenaan dengan yang menganut ajaran Islam, pun kita tak perlu merasa
minder, rendah diri dan pesimis. Di samping ada support, kuntum khaira
ummatin ukhrijat linnas (selama kita berpegang pada kebenaran, keadilan, dan
kema'rufan serta tak berbuat kemungkaran dan kerusakan sebagaimana diajarkan
dalam wahyu-Nya) ada ayat-ayat lain
yang menerangkan bekal-bekal yang telah diberikan Tuhan kepada kita. "wa
dzkuru ni`mata 'l-Lahi `alaikum wa ma anzala `alaikum min al-kitaab wa
'l-hikmati ya`idhukum bih" [2: 231]; wa anzala 'l-Lahu `alaikal kitaba wal
hikmata wa `allamaka ma lam takun ta`lam, wa kana fadlullahi `alayka `adhima
(4: 113)--wa kaana fadlu 'l-Lahi `alayka `adhima--perlu digaris bawahi?!,
.... dan tentu bukan hanya dua seperti yang ana sebut itu. Masih banyak yang
lainnya....
Begitu pula pengikut Nabi Isa ada kelebihan yang telah diberikan Allah
kepada mereka. Jadi, yang pengin ana sampaikan, tiap-tiap bangsa memiliki
kelebihan masing-masing. Tak perlu sirik dan iri hati, kita ada bagian
masing-masing. (wa laa tatamannaw maa fadldla 'l-Lahu bihi ba`dlakum `alaa
ba`dl [4:32]. Bukankah Tuhan seadil-adil pemberi keputusan?! alaysa 'l-Lahu
bi ahkamil haakimin?!
Ini dulu, tentang kelebihan bangsa Israil. Dan ternyata, kita juga tak
kekurangan akan anugerah kelebihan ini. Begitu pula dengan bangsa dan umat
lain.
Selasa, 03 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
weh cah bagus blogge beres banget, salam soko aku cah kendal ojo lali nulis ning ganesha yo?
Posting Komentar